{ "1": { "title": "Generasi Z Lebih Produktif di Dunia Digital daripada di Dunia Nyata", "keywords": [ "produktivitas", "media sosial", "digitalisasi", "multitasking", "kebiasaan online", "self-branding", "fokus", "distraksi", "keseimbangan", "realitas sosial" ], "variants": { "produktivitas": ["produktif", "efisiensi", "efektif", "hasil kerja"], "media sosial": ["medsos", "sosmed", "platform digital", "jejaring sosial"], "digitalisasi": ["digital", "teknologi digital", "dunia digital", "era digital"], "multitasking": ["multi tasking", "banyak tugas", "kerja simultan"], "kebiasaan online": ["kebiasaan daring", "aktivitas online", "perilaku digital"], "self-branding": ["personal branding", "citra diri", "branding diri"], "fokus": ["konsentrasi", "perhatian", "atensi"], "distraksi": ["gangguan", "pengalih perhatian", "distorsi fokus"], "keseimbangan": ["balance", "seimbang", "proporsi"], "realitas sosial": ["kehidupan sosial", "interaksi sosial", "dunia nyata"] } }, "2": { "title": "Kebebasan Berpendapat di Media Sosial Justru Mengancam Etika Komunikasi", "keywords": [ "kebebasan berekspresi", "hate speech", "netizen", "literasi digital", "tanggung jawab", "komentar", "polarisasi", "etika", "cancel culture", "privasi" ], "variants": { "kebebasan berekspresi": ["kebebasan berpendapat", "freedom of speech", "bebas bicara"], "hate speech": ["ujaran kebencian", "ucapan kebencian", "konten negatif"], "netizen": ["warganet", "pengguna internet", "masyarakat digital"], "literasi digital": ["melek digital", "pemahaman digital", "edukasi digital"], "tanggung jawab": ["responsibility", "akuntabilitas", "pertanggungjawaban"], "komentar": ["comment", "respon", "feedback"], "polarisasi": ["perpecahan", "kubu-kubuan", "dikotomi"], "etika": ["moral", "norma", "sopan santun", "adab"], "cancel culture": ["budaya membatalkan", "boikot sosial"], "privasi": ["privacy", "data pribadi", "kerahasiaan"] } }, "3": { "title": "Media Sosial Lebih Banyak Merusak Kesehatan Mental daripada Membantu Ekspresi Diri", "keywords": [ "self-esteem", "validasi sosial", "perbandingan", "overthinking", "toxic positivity", "citra diri", "dopamine", "burnout", "kesehatan mental", "eksposur publik" ], "variants": { "self-esteem": ["harga diri", "kepercayaan diri", "rasa percaya diri"], "validasi sosial": ["pengakuan sosial", "approval", "penerimaan sosial"], "perbandingan": ["comparison", "membandingkan", "komparasi"], "overthinking": ["berpikir berlebihan", "overthink", "cemas berlebihan"], "toxic positivity": ["positif berlebihan", "positifitas toksik"], "citra diri": ["body image", "self image", "penampilan diri"], "dopamine": ["hormon bahagia", "reward system"], "burnout": ["kelelahan mental", "jenuh", "exhausted"], "kesehatan mental": ["mental health", "kondisi mental", "psikologis"], "eksposur publik": ["paparan publik", "tampil di publik", "visibilitas"] } }, "4": { "title": "Budaya Gotong Royong Mulai Luntur di Era Individualisme Digital", "keywords": [ "solidaritas", "empati", "komunitas", "kesibukan", "gaya hidup modern", "isolasi sosial", "partisipasi", "nilai budaya", "relasi sosial", "kebersamaan" ], "variants": { "solidaritas": ["kebersamaan", "kekompakan", "saling membantu"], "empati": ["simpati", "kepedulian", "rasa iba"], "komunitas": ["masyarakat", "kelompok", "perkumpulan"], "kesibukan": ["busy", "aktivitas padat", "rutinitas"], "gaya hidup modern": ["lifestyle modern", "kehidupan modern", "modernisasi"], "isolasi sosial": ["terisolasi", "menyendiri", "kesepian sosial"], "partisipasi": ["keterlibatan", "peran serta", "kontribusi"], "nilai budaya": ["budaya", "tradisi", "kearifan lokal"], "relasi sosial": ["hubungan sosial", "interaksi", "pertemanan"], "kebersamaan": ["togetherness", "kolektif", "gotong royong"] } }, "5": { "title": "Produk Lokal Layak Jadi Kebanggaan Nasional di Tengah Gempuran Globalisasi", "keywords": [ "UMKM", "inovasi", "branding", "ekonomi kreatif", "ekspor", "identitas budaya", "daya saing", "kreativitas", "kemandirian", "nasionalisme" ], "variants": { "UMKM": ["usaha kecil", "UKM", "wirausaha", "pelaku usaha"], "inovasi": ["inovatif", "kreasi baru", "terobosan"], "branding": ["merek", "citra produk", "brand"], "ekonomi kreatif": ["industri kreatif", "creative economy"], "ekspor": ["export", "perdagangan luar negeri", "pasar global"], "identitas budaya": ["jati diri", "ciri khas", "karakteristik budaya"], "daya saing": ["kompetitif", "keunggulan", "competitiveness"], "kreativitas": ["kreatif", "daya cipta", "imajinatif"], "kemandirian": ["mandiri", "independen", "swasembada"], "nasionalisme": ["cinta tanah air", "patriotisme", "bangga Indonesia"] } }, "6": { "title": "Uang Bukan Tolak Ukur Kebahagiaan", "keywords": [ "kesejahteraan", "mental health", "gaya hidup", "materialisme", "kesederhanaan", "prioritas", "hubungan sosial", "gratitude", "keseimbangan", "nilai hidup" ], "variants": { "kesejahteraan": ["well-being", "sejahtera", "kemakmuran"], "mental health": ["kesehatan mental", "psikologis", "kondisi jiwa"], "gaya hidup": ["lifestyle", "pola hidup", "cara hidup"], "materialisme": ["materialistik", "konsumtif", "hedonisme"], "kesederhanaan": ["sederhana", "simple", "minimalis"], "prioritas": ["hal penting", "yang utama", "fokus utama"], "hubungan sosial": ["relasi", "pertemanan", "keluarga"], "gratitude": ["syukur", "bersyukur", "rasa terima kasih"], "keseimbangan": ["balance", "seimbang", "harmoni"], "nilai hidup": ["makna hidup", "filosofi hidup", "prinsip"] } }, "7": { "title": "Teknologi Membuat Manusia Semakin Malas Berpikir Kritis", "keywords": [ "AI", "otomatisasi", "kenyamanan", "ketergantungan", "literasi digital", "algoritma", "kecepatan informasi", "refleksi", "kreativitas", "kesadaran" ], "variants": { "AI": ["artificial intelligence", "kecerdasan buatan", "machine learning"], "otomatisasi": ["automasi", "serba otomatis", "automation"], "kenyamanan": ["kemudahan", "comfort", "efisiensi"], "ketergantungan": ["addiction", "kecanduan", "bergantung"], "literasi digital": ["melek digital", "pemahaman teknologi"], "algoritma": ["algorithm", "sistem", "pola"], "kecepatan informasi": ["informasi cepat", "instant information"], "refleksi": ["renungan", "introspeksi", "contemplation"], "kreativitas": ["kreatif", "inovasi", "imajinasi"], "kesadaran": ["awareness", "mindfulness", "sadar"] } }, "8": { "title": "Literasi Membaca di Kalangan Anak Muda Indonesia Masih Rendah", "keywords": [ "minat baca", "gadget", "media sosial", "budaya literasi", "pendidikan", "akses buku", "kebiasaan", "digital reading", "perpustakaan", "edukasi" ], "variants": { "minat baca": ["reading interest", "gemar membaca", "hobi baca"], "gadget": ["gawai", "smartphone", "perangkat digital"], "media sosial": ["medsos", "sosmed", "platform digital"], "budaya literasi": ["literacy culture", "tradisi membaca"], "pendidikan": ["education", "pembelajaran", "sekolah"], "akses buku": ["ketersediaan buku", "availability", "jangkauan buku"], "kebiasaan": ["habit", "rutinitas", "pola"], "digital reading": ["membaca digital", "e-book", "bacaan online"], "perpustakaan": ["library", "taman bacaan", "pojok baca"], "edukasi": ["education", "pembelajaran", "pengajaran"] } }, "9": { "title": "Standar Kecantikan di Media Sosial Menyebabkan Krisis Percaya Diri", "keywords": [ "body image", "filter", "influencer", "estetika", "kesehatan mental", "tren", "citra diri", "autentisitas", "tekanan sosial", "representasi" ], "variants": { "body image": ["citra tubuh", "penampilan fisik", "bentuk tubuh"], "filter": ["filter wajah", "edit foto", "beautify"], "influencer": ["content creator", "selebgram", "public figure"], "estetika": ["aesthetic", "keindahan", "penampilan"], "kesehatan mental": ["mental health", "psikologis", "kondisi jiwa"], "tren": ["trend", "mode", "viral"], "citra diri": ["self image", "harga diri", "kepercayaan diri"], "autentisitas": ["keaslian", "authentic", "natural"], "tekanan sosial": ["social pressure", "tuntutan sosial"], "representasi": ["representation", "gambaran", "potret"] } }, "10": { "title": "Hukuman untuk Pelaku Korupsi di Indonesia Masih Terlalu Ringan", "keywords": [ "hukum", "integritas", "keadilan", "KPK", "sistem peradilan", "sanksi", "efek jera", "moralitas", "kepercayaan publik", "reformasi hukum" ], "variants": { "hukum": ["law", "peraturan", "regulasi", "legal"], "integritas": ["kejujuran", "accountability", "transparansi"], "keadilan": ["justice", "fairness", "adil"], "KPK": ["komisi pemberantasan korupsi", "lembaga antikorupsi"], "sistem peradilan": ["pengadilan", "judicial system", "proses hukum"], "sanksi": ["hukuman", "punishment", "vonis"], "efek jera": ["deterrent effect", "pembelajaran", "pencegahan"], "moralitas": ["moral", "etika", "nilai"], "kepercayaan publik": ["trust", "kredibilitas", "public trust"], "reformasi hukum": ["perbaikan hukum", "pembaruan sistem"] } } }